Saat mendengar berita kebakaran hutan dan lahan, yang pertama terbayang olehku biasanya adalah asap. Langit yang berkabut, orang-orang memakai masker, dan anak-anak yang harus membatasi kegiatan di luar rumah.
Sebagai ibu, pikiranku langsung menuju urusan keluarga. Bagaimana kalau anak-anak menghirup asapnya? Bagaimana sekolah dan aktivitas mereka?
Namun, kalau kebakarannya terjadi jauh dari tempat tinggal kami, kadang berita itu berlalu begitu saja. Aku merasa prihatin, lalu kembali menjalani hari.
Sampai aku mengikuti webinar Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity pada 16 Oktober 2026. Temanya, “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.”
Dari pembahasan hari itu, aku mulai memahami bahwa ada dampak karhutla yang tidak selalu terlihat dari rumah kami. Ada ekosistem yang terganggu, sumber pangan yang terancam, dan masyarakat yang kesehariannya berubah ketika lingkungan tempat mereka bergantung mengalami kerusakan.
Aku jadi bertanya-tanya, selama ini seberapa jauh aku mengenal asal makanan yang tersaji untuk keluarga?
Di Balik Asap, Ada Kehidupan yang Ikut Terdampak
Dalam keseharian, aku lebih sering memikirkan makanan dari sisi yang praktis. Mau masak apa, bahan apa yang masih tersedia, dan anak-anak sedang mau makan apa.
Jarang sekali aku menelusuri cerita sebelum bahan makanan itu sampai ke dapur.
Padahal, ada tanah, air, tumbuhan, hewan, serta orang-orang yang merawat dan mengolahnya. Semuanya saling berkaitan.
Ketika kebakaran merusak suatu kawasan, yang hilang bukan hanya pepohonan yang terlihat dalam foto berita. Habitat berbagai makhluk hidup ikut terganggu. Bagi masyarakat yang memanfaatkan hutan, sungai, atau lahan di sekitarnya, kerusakan itu juga dapat memengaruhi akses terhadap makanan dan penghidupan.
Aku membayangkan bagaimana rasanya jika tempat yang selama ini menjadi sumber kebutuhan keluarga tiba-tiba tidak lagi bisa diandalkan.
Mungkin sebelumnya ada bahan pangan yang bisa ditanam, dipanen, atau diperoleh dari lingkungan sekitar. Ketika ekosistemnya rusak, pilihan itu bisa semakin terbatas.
Di titik ini, karhutla terasa lebih dekat. Ada keluarga-keluarga yang harus memikirkan kembali cara memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Mengapa Gambut Perlu Mendapat Perhatian?
Melalui materi Yoga Aprillianno dari Pantau Gambut, aku belajar bahwa gambut merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari timbunan bahan organik dalam waktu panjang.
Gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan berperan dalam mengatur air. Kondisinya yang basah merupakan bagian penting dari cara ekosistem ini bekerja.
Masalah muncul ketika gambut dikeringkan dan mengalami kerusakan. Salah satunya melalui kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan tersebut. Gambut yang mengering menjadi lebih rentan terbakar.
Saat terbakar, apinya bisa membara di bawah permukaan. Jadi, meskipun dari atas tidak selalu tampak kobaran besar, kebakaran dapat terus berlangsung di dalam lapisan gambut dan sulit dipadamkan.
Ada satu penjelasan yang juga membuatku berhenti menyederhanakan persoalan ini: cuaca kering, termasuk yang berkaitan dengan El Niño, dapat memperbesar risiko kebakaran, tetapi tidak menjelaskan seluruh penyebabnya.
Kondisi lahan dan cara pengelolaannya juga perlu diperhatikan. Karena itu, menjaga gambut tetap berfungsi tidak cukup hanya dilakukan ketika asap sudah muncul.
Ketika Alam Rusak, Pilihan Pangan Bisa Ikut Menyempit
Dalam sesi Ahmad Arif, pembahasan tentang keragaman pangan membuat hubungan ini semakin jelas bagiku.
Makanan masyarakat tumbuh bersama kondisi alam dan kebudayaannya. Di berbagai daerah, ada yang akrab dengan sagu, umbi-umbian, jagung, maupun beragam sumber pangan lain.
Di balik bahan-bahan itu, ada pengetahuan tentang tempat tumbuh, waktu panen, cara menyimpan, dan cara mengolahnya. Ada benih yang dijaga serta kebiasaan yang diwariskan.
Kalau lingkungan tempat pangan tersebut tumbuh rusak, dampaknya bisa melampaui berkurangnya bahan makanan. Pengetahuan dan tradisi yang menyertainya juga dapat semakin sulit diteruskan.
Materi ini membuatku memahami bahwa menjaga keragaman pangan juga berarti menghargai masyarakat yang selama ini merawatnya.
Mereka memiliki pengalaman hidup bersama lingkungan setempat. Pengalaman itu penting untuk didengarkan ketika kita membicarakan perlindungan alam dan masa depan pangan.
Membawa Pembicaraan Ini ke Meja Sarapan

Setelah webinar, aku memikirkan cara mengenalkan pembelajaran ini kepada anak-anak tanpa membuatnya terasa seperti pelajaran panjang.
Kebetulan kami sedang staycation. Aku pun terpikir mengajak mereka melakukan misi kecil saat sarapan: mencari sumber karbohidrat selain nasi, terutama umbi atau olahan sagu jika tersedia.
Bukan untuk melarang nasi. Aku ingin mengajak mereka memperhatikan pilihan makanan yang mungkin selama ini terlewat.
Dari sana, percakapannya bisa berkembang. Ini makanan apa? Bahan dasarnya tumbuh di mana? Biasanya diolah menjadi apa? Siapa yang menanamnya?
Tentu aku tidak bisa langsung menyebut makanan di buffet sebagai pangan produksi setempat tanpa mencari tahu asalnya. Namun, mengenali bahannya bisa menjadi langkah awal untuk belajar lebih jauh.
Aku ingin anak-anak mengenal bahwa makanan punya cerita sebelum sampai ke piring mereka. Ada alam yang mendukung pertumbuhannya dan ada orang-orang yang bekerja agar kita bisa menikmatinya.
Keragaman Pangan sebagai Bekal Menghadapi Perubahan
Pesan utama webinar ini adalah keragaman pangan sebagai bagian dari mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim.
Bagiku, salah satu hal yang bisa dipahami dari pesan tersebut adalah pentingnya memiliki beragam sumber pangan. Ketika satu sumber terganggu, masyarakat membutuhkan pilihan lain yang sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebudayaannya.
Namun, pilihan itu perlu dijaga sejak sekarang: ekosistemnya, bahan pangannya, benihnya, dan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatannya.
Mencoba ubi atau singkong di rumah tentu tidak langsung menghentikan kebakaran lahan. Aku juga tidak ingin membebankan persoalan sebesar karhutla hanya pada pilihan belanja sebuah keluarga.
Perlindungan gambut, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, dan pencegahan kebakaran tetap membutuhkan tindakan dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Sementara itu, sebagai ibu, aku bisa mulai dengan belajar lebih sungguh-sungguh, mengenalkan pangan yang beragam, dan mengajak anak menghargai asal makanannya.
Sekarang, ketika mendengar berita karhutla, aku ingin mengingat lebih banyak hal daripada asapnya saja.
Ada air yang perlu dijaga, kehidupan yang bergantung pada suatu kawasan, serta keluarga yang membutuhkan lingkungan tersebut untuk terus menyediakan pangan.
Dan saat menyiapkan makan untuk anak-anak, aku ingin sesekali mengajak mereka bertanya: makanan ini berasal dari mana, dan apa yang perlu kita jaga agar kelak tetap tersedia?
