Belajar Pangan Lokal dari Kebun hingga Meja: Pengalaman Farm Tour di Seniman Pangan Bekasi

Photo of author

By Shafira Adlina

“Kalian pasti nggak nyangka, ada café di Bekasi yang punya kebun hampir 3 hektar!”

Kalimat itu mungkin terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Café identik dengan tempat makan, ngobrol, atau menikmati kopi. Tapi di Seniman Pangan Bekasi, pengalaman yang ditawarkan ternyata jauh lebih luas.

Di sini, pengunjung bisa mengikuti farm tour, berkeliling kebun, mengenal berbagai tanaman pangan, mencabut singkong, memanen terong, bahkan mencicipi tebu Papua langsung dari pohonnya.

Saya berkesempatan merasakan pengalaman tersebut dalam Opening Event Eco Blogger Squad bertema “Local Food, Local Pride”. Dari kunjungan ini, saya tidak hanya belajar tentang pangan lokal, tetapi juga melihat bagaimana pangan bisa terhubung dengan lingkungan, budaya, pengetahuan masyarakat, hingga peluang ekonomi.

Seniman Pangan Bekasi, Bukan Sekadar Café

Saat pertama datang, yang terlihat memang sebuah tempat makan dengan suasana yang cukup asri. Namun, semakin masuk dan mengikuti kegiatan, semakin terasa bahwa Seniman Pangan memiliki konsep yang lebih besar.

Salah satu pengalaman yang bisa dilakukan adalah farm tour di area kebun yang luasnya hampir 3 hektar.

Kami diajak berjalan menyusuri kebun dan mengenal tanaman yang selama ini mungkin lebih sering kita temui dalam bentuk sudah siap makan di pasar atau meja makan.

Bedanya, kali ini kami melihatnya langsung dari sumbernya.

Kami bisa mencabut singkong sendiri, memanen terong, dan makan tebu Papua langsung dari pohonnya.

Pengalaman sederhana seperti ini ternyata cukup membuka perspektif.

Selama ini, kita sering bertemu makanan dalam bentuk akhirnya. Singkong sudah menjadi makanan, sayuran sudah berada di pasar, atau tebu sudah menjadi produk olahan.

Padahal, sebelum sampai ke sana, ada proses panjang yang melibatkan alam, petani, pengetahuan, dan kerja manusia.

Dari Kebun, Lanjut ke Dapur

Pengalaman di Seniman Pangan tidak berhenti setelah kami berkeliling kebun.

Kami juga mengikuti praktikum mengolah bahan pangan lokal.

Salah satu yang menarik adalah membuat selai rosela.

Rosela yang biasanya kita kenal sebagai tanaman dengan bunga berwarna merah ternyata bisa diolah menjadi produk pangan yang menarik.

Kami juga membuat sirup kemangi.

Kemangi yang selama ini lebih sering saya temui sebagai lalapan ternyata bisa diolah menjadi minuman. Dari sini saya jadi melihat bahwa bahan pangan lokal memiliki banyak kemungkinan ketika kita mau mengenalnya lebih jauh dan mengolahnya dengan tepat.

Inilah salah satu hal yang menarik dari pengalaman di Seniman Pangan.

Kita tidak hanya diajak berpikir tentang “apa yang bisa kita makan?”, tetapi juga mulai melihat “apa yang bisa kita lakukan dengan bahan pangan yang tumbuh di sekitar kita?”

Mencicipi Indonesia dalam Satu Meja

Selain pengalaman di kebun dan praktikum, salah satu bagian yang paling menyenangkan tentu saja mencicipi berbagai makanan yang disiapkan oleh tim Seniman Pangan.

Menariknya, makanan yang disajikan tidak hanya mewakili satu daerah.

Kami diajak mengenal berbagai makanan dari sejumlah wilayah di Indonesia.

Ada Sambal Tumpang, Inter Singkong dari Bogor, Nasi Subut dari Kalimantan, Ayam Tangkap dari Aceh, ikan goreng, serta tahu dan tempe bacem.

Ada juga Sate Singkong dengan sambal kacang dan Perkedel Jagung dari Mollo, Nusa Tenggara Timur.

Untuk condiment, tersedia Sambal Beberok dari NTB dan Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan, ditambah kerupuk dan emping.

Bagian dessert juga tidak kalah menarik. Kami mencicipi Rujak Aceh serta Sagu Sep Pisang dengan gelato dari Papua.

Satu meja makan ternyata bisa membawa kita mengenal begitu banyak cerita dari berbagai daerah.

Dan di sinilah saya merasa tema Local Food, Local Pride menjadi semakin terasa.

Pangan lokal bukan hanya tentang rasa.

Di balik sebuah makanan bisa ada asal daerah, bahan pangan khas, cara pengolahan, tradisi, pengetahuan, dan identitas masyarakat yang menjaganya.

Mengenal Sekolah Seniman Pangan

Dalam kegiatan tersebut, kami juga mendapat penjelasan mengenai Sekolah Seniman Pangan.

Sekolah Seniman Pangan merupakan wadah belajar dan pusat berbagai kegiatan yang dikembangkan oleh Javara Indonesia. Berdasarkan informasi Javara, Sekolah Seniman Pangan didirikan pada 2017 sebagai fasilitas pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik dan bagian dari ekosistem bisnis pangan. Javara – Our Journey

Konsepnya menarik karena pangan tidak hanya dilihat dari sisi produksi.

Petani dan pelaku pangan juga perlu memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana mengolah hasil panen dengan baik, mengembangkan produk, dan membawa produk tersebut ke pasar yang lebih luas.

Dengan begitu, hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah.

Ada kesempatan untuk menciptakan nilai tambah dan peluang ekonomi.

Di sinilah saya melihat hubungan antara pangan lokal dan restorasi ekonomi.

Mengapa Pangan Lokal Berkaitan dengan Restorasi Ekonomi?

Campaign Local Food, Local Pride tidak hanya mengajak kita untuk mengenal makanan lokal, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang bagaimana pangan yang berasal dari daerah setempat dapat menjadi bagian dari economic restoration atau restorasi ekonomi.

Sederhananya, ketika kita memilih pangan lokal, ada lebih banyak kemungkinan bahwa nilai ekonomi tersebut tetap berputar di dalam ekosistem masyarakat yang memproduksinya.

Petani menanam.

Pelaku pangan mengolah.

Usaha lokal mengembangkan produk.

Konsumen membeli dan mengonsumsi.

Rantai sederhana ini dapat menciptakan permintaan sekaligus membuka ruang bagi produk pangan lokal untuk terus berkembang.

Karena itu, memilih pangan lokal dari rumah mungkin terlihat seperti keputusan kecil. Tetapi jika dilakukan secara konsisten dan oleh semakin banyak orang, pilihan tersebut dapat ikut mendukung keberlangsungan ekonomi masyarakat yang berada di balik pangan tersebut.

Menjaga Pangan Berarti Menjaga Pengetahuan

Ada hal lain yang menurut saya tidak kalah penting: warisan pengetahuan.

Pangan lokal sering kali tidak berdiri sendiri. Ada pengetahuan tentang tanaman, cara menanam, cara mengolah, resep, teknik memasak, hingga cara memanfaatkan bahan tertentu yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal ini berkaitan dengan IPLC (Indigenous Peoples and Local Communities) atau Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal.

Ketika pangan lokal terus digunakan, dihargai, dan memiliki pasar, pengetahuan tradisional yang melekat di dalamnya juga memiliki peluang untuk terus hidup.

Sebaliknya, ketika pangan lokal semakin ditinggalkan, bukan tidak mungkin pengetahuan mengenai bahan pangan dan cara pengolahannya juga perlahan ikut hilang.

Karena itu, melestarikan pangan lokal bukan hanya soal mempertahankan makanan tradisional.

Ini juga tentang menjaga keanekaragaman hayati, pengetahuan, budaya, dan kehidupan masyarakat yang ada di baliknya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan dari Rumah?

Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi berpikir bahwa kontribusi terhadap pangan lokal sebenarnya tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Kita bisa mulai dari rumah.

Misalnya dengan mencoba mengenal pangan yang berasal dari daerah sekitar, membeli produk dari pelaku usaha lokal, mencoba bahan pangan yang mungkin selama ini belum familiar, atau sekadar mengenalkan kepada anak dari mana makanan yang mereka makan berasal.

Anak-anak juga bisa diajak mengalami prosesnya secara langsung.

Bukan hanya mengatakan, “Ini singkong.”

Tetapi mengajak mereka melihat tanaman singkong, mencabutnya, mengolahnya, lalu mencicipi hasilnya.

Dengan begitu, anak tidak hanya mengenal makanan sebagai sesuatu yang sudah tersedia di atas meja.

Mereka juga belajar bahwa ada alam, petani, pengetahuan, budaya, dan proses panjang di baliknya.

Dari Kebun hingga Meja, Ada Cerita yang Perlu Dijaga

Pengalaman di Seniman Pangan membuat saya melihat bahwa pangan lokal ternyata punya perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang terlihat di piring.

Dimulai dari kebun.

Kemudian ditanam dan dirawat.

Dipanen.

Diolah.

Dikembangkan menjadi produk.

Dikenalkan kepada konsumen.

Dan pada akhirnya, bisa menjadi bagian dari roda ekonomi masyarakat.

Hari itu saya datang untuk mengikuti sebuah event.

Namun saya pulang membawa perspektif baru: bahwa memilih pangan lokal juga bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk berkontribusi dari rumah.

Kita tidak hanya memilih makanan berdasarkan rasa atau harga.

Kita juga bisa mulai bertanya:

Dari mana makanan ini berasal?

Siapa yang menanam dan mengolahnya?

Pengetahuan apa yang ada di baliknya?

Dan apakah pilihan kita ikut membantu pangan tersebut tetap hidup?

Karena ternyata, yang bisa dipanen dari sebuah kebun bukan hanya singkong, terong, atau tebu.

Ada pengalaman, pengetahuan, budaya, dan peluang masa depan yang ikut tumbuh di dalamnya.

Dan mungkin, ketika kita mulai menghargai pangan lokal dari hal yang paling sederhana—yaitu memilih dan menikmatinya—kita juga sedang ikut menjaga cerita Indonesia agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari kebun hingga meja, setiap pangan punya cerita. Dan pilihan kita hari ini bisa ikut menentukan cerita itu akan terus hidup atau tidak. 🌱🇮🇩

Tentang Narasumber dan Tim Seniman Pangan

Dalam kegiatan ini, kami juga mendapatkan penjelasan dan pendampingan dari tim Seniman Pangan, antara lain:

  • Mama Etih Suryatin — Partnership Director, Seniman Pangan
  • Johanna Hehakaja — Business Director, Sekolah Seniman Pangan
  • Corazon Nikijuluw — Food Technology & Education Manager, Seniman Pangan

Tentang Seniman Pangan

Seniman Pangan merupakan bagian dari ekosistem Javara yang menghadirkan pengalaman untuk mengenal pangan melalui kebun, pengolahan, edukasi, dan produk pangan lokal. Pengunjung dapat menikmati pengalaman farm tour, mengenal tanaman pangan, serta melihat hubungan antara bahan pangan lokal dan produk yang sampai ke konsumen.

Bagi saya, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa local food is not just food.

Ada manusia, alam, pengetahuan, budaya, dan ekonomi yang ikut hidup di dalamnya.

Dan semuanya bisa kita mulai hargai dari rumah.

Total Views: 27

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You cannot copy content of this page