Dari Mangrove Raja Ampat ke Daun Suji di Rumah: Alam Menjaga Sumber Pangan Kita

Photo of author

By Shafira Adlina

Minggu lalu, akhirnya tanaman suji yang tumbuh di rumah saya panen. Daun-daunnya sudah cukup lebat dan warna hijaunya terlihat cantik sekali. Sayang rasanya kalau hanya dibiarkan menjadi penghias halaman.

Saya pun mencoba mengolahnya menjadi pewarna alami untuk minuman buko pandan. Daun suji diblender bersama pandan wangi, lalu airnya disaring dan digunakan untuk membuat agar-agar. Setelah itu, saya tambahkan nata de coco, susu, dan stevia secukupnya sebagai pemanis.

Jujur, awalnya saya tidak berekspektasi terlalu tinggi. Ini juga pertama kalinya saya membuat buko pandan sendiri menggunakan daun yang dipanen dari rumah.

Namun, surprisingly, rasanya enak seperti beli!

Warnanya hijau alami, aromanya wangi, dan rasanya segar. Bagian yang paling menyenangkan, anak-anak ternyata suka. Mereka menikmatinya tanpa menyadari bahwa warna hijau pada minuman tersebut berasal dari tanaman yang selama ini tumbuh di sekitar rumah.

Ternyata membuatnya juga tidak sesulit yang saya bayangkan. Dari pengalaman sederhana ini, saya jadi berpikir bahwa alam sudah menyediakan banyak hal yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Kita hanya perlu mengenali, menjaga, dan belajar mengolahnya.

Daun Suji Bukan Sekadar Penghias Pekarangan

Selama ini daun suji sering disamakan dengan daun pandan. Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Daun pandan lebih dikenal karena aromanya yang khas, sedangkan daun suji telah lama dimanfaatkan sebagai pewarna hijau alami pada berbagai makanan tradisional Indonesia. Karena itu, saya menggunakan keduanya sekaligus: daun suji untuk menghasilkan warna hijau dan pandan untuk memberikan aroma yang lebih harum.

Daun suji dapat dimanfaatkan untuk memberikan warna pada agar-agar, klepon, dadar gulung, kue lapis, putu ayu, hingga berbagai minuman. Cara mengolahnya pun cukup sederhana. Daunnya dicuci, dipotong, diblender atau ditumbuk bersama sedikit air, kemudian disaring.

Air hasil saringan itulah yang digunakan sebagai pewarna alami.

Bagi saya, daun suji seperti memiliki “double job”. Saat masih tumbuh, tanaman ini membuat pekarangan terlihat lebih hijau. Ketika dipanen, daunnya bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari pengolahan pangan keluarga.

Namun, pengalaman membuat buko pandan ini ternyata terasa lebih bermakna setelah saya mengikuti webinar Eco Blogger Squad bersama The Asia Foundation yang bertema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat”.

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen

Sebelumnya, saya mengenal mangrove sebagai tanaman yang tumbuh di pesisir dan membantu melindungi pantai. Setelah mengikuti webinar, saya baru memahami bahwa peran mangrove jauh lebih luas.

Ekosistem mangrove menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bagi ikan, kepiting, kerang, dan berbagai biota lainnya. Artinya, ketika mangrove terjaga, sumber pangan masyarakat pesisir juga ikut terjaga.

Buah mangrove jenis aibon bahkan dapat diolah menjadi tepung, kemudian dikembangkan menjadi aneka makanan dan camilan lokal. Pemanfaatannya dilakukan secara bijak agar masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistem yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Dari pemaparan Wawiyai Steve, saya juga mengetahui bahwa kawasan Mangrove Doredor merupakan wilayah adat yang dijaga oleh masyarakat Kampung Friwen. Kawasan ini memiliki peran penting sebagai tempat pemijahan ikan di Selat Dampier, Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Sayangnya, pada tahun 2019 tingkat kerusakan mangrove di kawasan tersebut mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total luasan 233 hektare. Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan homestay dan resor.

Melihat kondisi tersebut, masyarakat tidak tinggal diam. Sejak tahun 2019, mereka melakukan pembibitan, persemaian, penanaman kembali, patroli kawasan, serta mengembangkan pemanfaata

Perempuan Menjadi Bagian Penting dari Perubahan

Hal lain yang paling membekas bagi saya adalah besarnya peran perempuan dalam menjaga mangrove dan ketahanan pangan di Kampung Friwen.

Perempuan tidak hanya mengolah buah mangrove menjadi produk pangan. Mereka juga terlibat dalam pengelolaan kelompok usaha, agroforestri, kerajinan tangan, kegiatan patroli, perlindungan mangrove, penjualan sayur ke homestay dan resor, hingga pertemuan rutin kelompok perempuan.

Melalui Program PAPeDA, kemitraan The Asia Foundation dan Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat membantu membuka ruang bagi perubahan tersebut. Pendampingan dilakukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perhutanan sosial, kelembagaan kelompok, kapasitas usaha, jejaring, dan kemitraan.

Kisah ini menunjukkan bahwa menjaga hutan tidak bisa dipisahkan dari upaya memperkuat masyarakat yang hidup di sekitarnya. Ketika perempuan mendapatkan pengetahuan, ruang, dan kesempatan untuk terlibat, manfaatnya dapat dirasakan oleh keluarga, lingkungan, dan generasi berikutnya.

Dari Raja Ampat Kembali ke Pekarangan Rumah

Tentu, tanaman suji di pekarangan rumah saya tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan luas dan pentingnya ekosistem mangrove di Raja Ampat.

Namun, keduanya memberikan satu pelajaran yang sama: kita perlu mengenal tanaman yang hidup di sekitar kita dan memahami manfaatnya bagi kehidupan.

Bagi masyarakat Kampung Friwen, mangrove merupakan ruang hidup, sumber pangan, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang perlu dijaga. Sementara bagi keluarga saya, daun suji menjadi contoh sederhana bahwa tanaman di halaman rumah pun dapat menjadi bagian dari pangan keluarga.

Dari daun yang dipetik sendiri, saya bisa membuat minuman yang disukai anak-anak. Saya juga bisa memperkenalkan kepada mereka bahwa makanan berwarna hijau tidak selalu harus berasal dari pewarna buatan. Ada tanaman yang sejak dahulu digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai pewarna makanan alami.

Prosesnya memang lebih panjang dibandingkan menggunakan pewarna siap pakai. Daunnya harus dipetik, dicuci, dipotong, dihaluskan, kemudian disaring. Namun, justru dari proses itu anak-anak bisa belajar bahwa makanan yang mereka nikmati memiliki cerita dan berasal dari alam.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan

Dalam momentum Bangkok Climate Action Week 2026, kita kembali diingatkan bahwa solusi menghadapi perubahan iklim tidak selalu hanya datang dari ruang diskusi besar. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal.

Masyarakat Kampung Friwen telah menunjukkan bagaimana pelestarian mangrove, penguatan kelompok perempuan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Sementara itu, dari rumah, kita bisa memulainya dengan langkah yang lebih sederhana: mengenali tanaman di sekitar, menanam yang bisa dimanfaatkan, menjaga pengetahuan pangan lokal, dan mengajak anak-anak memahami dari mana makanan mereka berasal.

Pengalaman memanen daun suji dan membuat buko pandan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi saya, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa sumber pangan terkadang tumbuh sangat dekat dengan kita.

Alam tidak hanya memberikan pemandangan. Alam juga menyediakan kehidupan, pengetahuan, dan sumber pangan yang perlu kita jaga bersama.

Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan.

Kalau di daerah atau pekarangan rumahmu, tanaman apa yang memiliki manfaat bagi kehidupan sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan?

#EcoBloggerSquad #TheAsiaFoundation #SolvingTogether #EconomicGrowth #SustainableAgriculture #TAFIndonesia #MerawatMimpi #MenumbuhkanInspirasi

Total Views: 43

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You cannot copy content of this page