Benarkah Rutinitas Seorang Ibu itu Bisa Menjadi Ibadah?

Photo of author

By Shafira Adlina

rutinitas ibu

Pernahkah kamu merasa lelah dengan rutinitas sebagai ibu?
Bangun pagi, menyiapkan makan, mengantar anak sekolah, menemani belajar, merapikan rumah, menenangkan tangis, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang muncul pertanyaan pelan di hati: “Apa yang aku lakukan ini cukup berarti?”

Sebagai ibu dari tiga anak, aku pernah—dan sering—berada di fase itu. Fase lelah yang bukan cuma di badan, tapi juga di hati. Sampai suatu hari aku disadarkan pada satu hal sederhana namun mengubah cara pandang: rutinitas ibu bisa bernilai ibadah, jika diniatkan karena Allah.

Artikel ini aku tulis untukmu, ibu yang sedang membaca sambil menunggu anak tidur, atau di sela waktu memasak. Semoga kamu merasa ditemani.

Ibadah Tak Selalu di Atas Sajadah

Kita sering mengaitkan ibadah dengan sajadah, masjid, dan doa-doa panjang. Padahal dalam Islam, niat memiliki posisi yang sangat penting. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap amal tergantung pada niatnya.

Artinya, aktivitas yang tampak biasa—bahkan melelahkan—bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk Allah. Di sinilah peran ibu menjadi begitu istimewa.

1. Menyiapkan Makan: Menunaikan Amanah Menutrisi

Sebagai ibu, aku tahu betul rasanya menyiapkan makan sambil dikejar waktu. Ada hari-hari ketika masakan terasa “asal jadi”. Namun kemudian aku belajar mengubah sudut pandang.

Saat aku berniat, “Ya Allah, aku menyiapkan makanan ini agar anak-anakku punya tenaga, sehat, dan bisa beribadah kepada-Mu,” maka dapur berubah menjadi ladang pahala.

Memberi makan bukan sekadar mengenyangkan, tapi menjaga tubuh yang Allah titipkan. Bahkan ketika menyiapkan makanan sederhana, niat itulah yang memberi nilai ibadah.

2. Mengajar Anak: Menanam Benih Ilmu

Mengajari anak membaca, menulis, atau sekadar menjawab pertanyaan yang sama berulang kali memang menguras energi. Aku pernah kehilangan kesabaran hanya karena anak bertanya hal kecil saat aku lelah.

Namun aku diingatkan: setiap ilmu yang kita tanam, pahalanya bisa terus mengalir. Saat kita niatkan mengajar sebagai bentuk tanggung jawab dan ibadah, kita sedang menanam benih yang kelak tumbuh, bahkan setelah kita tiada.

Ibu adalah sekolah pertama. Dan setiap kesabaran ibu adalah pelajaran berharga.

3. Menenangkan Anak: Wajah Nyata Kasih Sayang

Tangisan anak sering datang di waktu yang tak tepat. Saat badan capek, emosi menipis. Aku pun pernah memeluk anak sambil menahan air mata sendiri.

Di momen itulah aku belajar: menenangkan anak adalah bentuk kasih sayang dan rahmat. Allah Maha Penyayang, dan Dia mencintai hamba yang menebarkan kasih sayang.

Pelukan, usapan kepala, dan kata lembut ibu bukan hal sepele. Itu adalah bahasa cinta yang insyaAllah dicatat sebagai amal baik.

baca juga: Santai dan Tenang Membuktikan Cinta Kepada Anak

4. Membersihkan Rumah: Bagian dari Iman

Merasa lelah karena rumah tak pernah benar-benar rapi? Aku sering. Baru saja selesai menyapu, mainan kembali berserakan.

Namun kebersihan dalam Islam adalah bagian dari iman. Saat ibu berniat menjaga kebersihan rumah agar keluarga nyaman beribadah dan beristirahat, aktivitas membersihkan rumah pun bernilai ibadah.

Tak harus sempurna. Cukup diniatkan.

5. Bermain Bersama Anak: Sunnah yang Indah

Dulu aku merasa bermain dengan anak itu ‘menghabiskan waktu’. Tapi kemudian aku belajar bahwa Rasulullah ﷺ pun bermain dengan anak-anak.

Bermain adalah cara hadir sepenuh hati. Saat ibu ikut tertawa, mendengarkan cerita imajinasi anak, dan benar-benar hadir tanpa distraksi, di situlah hubungan emosional terbangun.

Dengan niat mengikuti sunnah dan membahagiakan anak, bermain menjadi ibadah yang ringan namun bermakna.

Kunci Utamanya: Meluruskan Niat

Bukan aktivitasnya yang mengubah nilai, tapi niat di dalam hati ibu. Kita tak perlu menambah beban dengan melakukan lebih banyak hal. Cukup hadir dengan niat yang benar dalam apa yang sudah kita lakukan setiap hari.

Untukmu, Ibu yang Sedang Lelah

Jika hari ini kamu merasa tidak produktif, ingatlah:

  • Kamu sudah memberi makan dengan cinta
  • Kamu sudah mengajarkan kebaikan
  • Kamu sudah memeluk dengan sabar

Semua itu insyaAllah bernilai ibadah.

Menjadi ibu bukan peran kecil. Dalam diam, ibu sedang mengumpulkan pahala melalui hal-hal yang tampak sederhana.

Semoga artikel ini membuatmu merasa dilihat, ditemani, dan dikuatkan.

Karena lelahmu bukan sia-sia. Allah Maha Melihat.

Penutup: Ibu, Kamu Tidak Sendiri

Jika kamu sampai di bagian ini, mungkin kamu sedang mencari penguatan. Atau sekadar ingin diyakinkan bahwa apa yang kamu lakukan setiap hari benar-benar berarti.

CeritaMamah hadir sebagai ruang aman untuk para ibu—tempat berbagi, bertumbuh, dan menguatkan satu sama lain.

Ajak Dirimu Terhubung Lebih Dalam:

  • Ikuti CeritaMamah untuk refleksi harian seputar ibu, emosi, dan pengasuhan islami
  • Bagikan artikel ini ke ibu lain yang sedang merasa lelah
  • Tulis ceritamu sendiri—karena setiap ibu punya kisah yang layak didengar

Semoga setiap langkah kecilmu hari ini dicatat sebagai pahala.
Aamiin.

Total Views: 18

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You cannot copy content of this page